Narasi – narasi publik dalam agenda kontestasi kursi kekuasaan pemimpin daerah, seperti Papua tanah injil, jangan pilih yudas, kami mengalahkan orang – orang yang melawan Yesus, adalah contoh bentuk – bentuk politik identitas yang merusak demokrasi dan pembangunan negara bangsa.
Dalam konsep negara bangsa, identitas politik adalah kekayaan dan modal kejayaan negara. Tetapi politik identitas adalah ancaman terhadap kebhinekaan, persatuan dan integrasi bangsa.
Politik identitas menjadi ancaman terhadap integrasi bangsa, karena politik identitas adalah salah satu akar utama, bangkitnya gerakan – gerakan etno – nasionalisme dibanyak tempat di dunia, termasuk di tanah Papua.
Ketika ada elit politik dan pendukungnya, yang memainkan politik identitas seperti Papua tanah injil, jangan pilih Yudas, melawan orang – orang melawan Yesus, sesungguhnya ada para elit yang sedang memberontak dan melawan semboyang Bhineka Tunggal Ika, dan ideologi Pancasila.
Tanpa disadari, dengan munculnya politik identas dalam pilkada Gubernur Papua, yang dimainkan para elit kristen, atas dukungan gereja dan umat kristen, maka dampaknya kekristenan bukan lagi agama damai, tapi agama anti kedaimaian dan anti toleransi.
Kekristenan menjadi ” agama batu sandungan ” bagi umat Tuhan yang lain. Yesus Kristus sebagai tokoh central dalam kekristenan, yang penuh kasih, pengampunan, dan cinta damai, tidak lagi menarik dan dikagumi banyak orang. Sehingga umat manusia tidak lagi tertarik dengan cerita dan kotbah – kotbah tentang Yesus Kristus.
Kekristenan di Papua kemudian akan menjadi “bantu sandungann” ancaman terhadap integrasi dan kedaulatan negara di Papua, jika pemimpin Papua terpilih adalah hasil dari praktek politik identitas.
Kita setuju ๐ฃ๐ฎ๐ฝ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐ถ๐ป๐ท๐ถ๐น ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ฝ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ. Karena sebagai identitas politik, ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐ธ๐๐ฟ๐๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป, akan selalu menjadi pengingat untuk ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ธ๐ผ๐ฟ๐๐ฝ๐๐ถ dan ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด – ๐๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต๐ด๐๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป. Karena hidup kita harus menjadi injil yang dilihat anak buah kita dan orang banyak.
Tetapi kalau Papua tanah injil, dijadikan alat politik identitas, untuk rebut kursi kekuasaan, maka sudah pasti akan timbulkan polarisasi di masyarakat dan pembelahan sosial yang meluas. Pada akhirnya, masyarakat terjebak dalam lingkaran setan permusuhan dan kebencian.
Kami menolak politik identitas berbasis agama seperti Papua tanah injil. Karena ini bentuk politik identitas memalukan orang kristenan dan ancaman keamanan negara bangsa, yang harus dicegah dan dihentikan dalam pilkada Gubernur Papua tahun 2024 ini.
Sudah banyak kisah tersajikan, pemimpin nasional dan daerah yang terpilih melalui politik identitas, lazimnya dibanyak tempat, hanya akan berpihak kepada dirinya, keluarganya dan kelompoknya.
Provinsi Papua tidak mungkin memiliki masa depan yang baik, jika Gubernur Papua, adalah pemimpin hasil politik identitas berbasis agama dan teritorial kesukuan. Kita orang Kristen bertanggungjawab.
Oleh : Marinus Yaung
Warga Kota Jayapura, Papua.
