SENTANINEWS.NET – Jayapura Kota – Kegiatan Bedah Buku Perempuan Perkasa yang digelar di SMAN 7 Jayapura pada 1 Agustus 2025 kini mendapat perhatian lebih luas, menyusul keterlibatannya dalam diskusi regional bertajuk Regional Training on Environmental Education for Sustainable Development (EESD) yang berlangsung di Bandung, 4–8 Agustus 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “Bincang Iklim (Biak): Seri Adaptasi dan Mitigasi (Amole)” yang digelar atas kerja sama SMAN 7 Jayapura, Rumah Belajar Papua, SEAQIS, Yayasan Wasaraka Berkah, Mata Garuda Papua, dan WEA. Narasumber utama, Rhidian Yasminta Wasaraka, S.I.Kom., M.Si., memaparkan kearifan lokal masyarakat adat Papua dalam ketahanan iklim, khususnya peran perempuan dalam komunitas Korowai.
Diskusi ini tidak hanya diikuti oleh siswa secara langsung, tetapi juga dihadiri secara virtual oleh Brigjen TNI Tagor Rio Pasaribu, S.E. (Danrem 172 Praja Wira Yakthi), serta guru dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi referensi penting dalam pelatihan regional EESD yang diselenggarakan oleh SEAQIS dan SEAMEO di Bandung. Dalam pelatihan ini, Dr. Elly, salah satu pembicara utama, mengangkat praktik baik dari SMAN 7 Jayapura sebagai contoh keberhasilan pendekatan pendidikan lingkungan kontekstual.
“Education providing evidence to be food for thought for students that they are active and major contributors to the increasing amount of waste and carbon foot print, conversely, this program provides evidence that simple activities, if carried out collectively can have a significant impact,” ujar Dr. Elly saat memaparkan di hadapan peserta dari berbagai negara ASEAN.
Yayan Sopian, S.Pd., M.Si., Ketua Program Sekolah Berketahanan Iklim SMAN 7 Jayapura dan Manajer Program Pendidikan Rumah Belajar Papua, menyampaikan bahwa semangat Sekolah Berketahanan Iklim harus terus digelorakan di Papua.
“Bedah Buku Perempuan Perkasa selaras dengan semangat Sekolah Berketahanan Iklim, di mana adaptasi dan mitigasi kontekstual yang hidup bersama anak-anak Papua perlu digali, didokumentasikan, dipelajari, dan dijalankan — tidak sebatas di ruang kelas,” jelasnya.
Para siswa yang terlibat dalam kegiatan ini mengaku merasa lebih percaya diri dan bangga terhadap kontribusi masyarakat lokal dalam menghadapi perubahan iklim. Mereka menyatakan memiliki peran nyata, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan, dalam menjaga bumi mereka sendiri.
Kegiatan ini menunjukkan bagaimana pendekatan lokal dari tanah Papua dapat memberikan inspirasi hingga ke tingkat regional ASEAN dan menjadi model pembelajaran untuk pendidikan berkelanjutan.(Redaksi)
